Sabtu, 16 April 2011

Pembebasan Utang Luar negeri Argentina


 Pasca perang dunia ke-II, banyak Negara-negara yang mengalami kerusakan yang parah sehinggga membutuhkan dana untuk memperbaiki infrastruktur serta untuk perekonomiannya baik itu Negara-negara eropa, asia, termasuk Negara-negara amerika latin yang pastinya mendapatkan imbas dari great depression pasca perang dunia ke- II dan membutuhkan bantuan  dana dari Negara-negara maju, khususnya Amerika dalam hal ini sebagai Negara pemenang di Perang dunia ke II.  Dan bantuan tersebut kita kenal dengan Utang luar negeri (foreign public debt).
Bukan rahasia lagi kalau sekarang ini dalam dunia dikuasai oleh sistem kapitalis dimana modal adalah instrument utamanya adalah modal “siapa pemilik modal terbanyak dialah pemilik dari kekuasaan”. Dan untuk dapat bertahan sistem kapitalisme harus menjalankan beberapa rinsip salah satu diantaranya adalah internasionalisasi modal.
Amerika dan sekutunya melalui rangkaian scenario ekonomi yang sangat sistematis dan melalui tiga pilar ekonominya yaitu IMF, WTO, dan World Bank telah menghegemoni hampir semua pemimpin Negara berkembang beserta para ekonomnya untuk dengan sendirinya menjebloskan diri mereka ke dalam jebakan hutang yang tiada hentinya, dan bukannya mengeluarkan  dari jeratan kemiskinan Negara-negara maju malah membantu Negara-negara berkembang untuk tetap terjerumus lebih dalam lagi dalam lubang kemiskinan.seiring dengan penambahan hutang serta kenaikan suku bunga dan penguatan nilai dollar Amerika.
Miris kedengarannya Bahkan jika dikumulatifkan jumlah seluruh pembayaran cicilan utang yang dimiliki negara debitor sudah jauh lebih besar dari jumlah yang dipinjamkan itu sendiri, seperti yang terjadi di Indonesia, Meksiko, Argentina. Rakyat di negara-negara debitor tersebut terpaksa merasakan pahitnya kemiskinan, kebodohan dan penyakit, karena manajemen anggaran pemerintah lebih ditekankan kepada pembayaran utang luar negeri bukannya subsidi sosial. Di negara-negara seperti Tanzania, Zambia, Mozambique, Honduras dan Nicaragua, pembayaran hutang menyerap lebih dari seperlima dari total penerimaan pemerintah, sehingga menekan jumlah yang dibelanjakan untuk program sosial seperti kesehatan dan pendidikan. Di tahun 1997 terjadi kesenjangan sangat besar, yaitu cadangan devisa Indonesia sebesar 16,587 miliar dollar AS, yang jauh lebih kecil daripada total kewajiban sebesar 39,197 miliar dollar AS.
Utang luar negeri (foreign public debt)  merupakan salah satu instrument yang paling ampuh yang digunakan oleh Negara-negara maju (kreditor) kepada Negara-negara berkembang (debitor) untuk menciptakan kondisi ketergantungan baik itu ekonomi maupin politik di Negara-negara berkembang Tak hanya itu utang merupakan instrumen utama yang digunakan negara maju untuk mempertahankan akses bahan baku murah di negara lain, terutama negara-negara berkembang. Untuk menutupi hutangnya kepada negara-negara maju, negara-negara berkembang tersebut saling berlomba memacu ekspornya ke negara- negara maju. Akibatnya terjadi kejenuhan pasar, sehingga harga komoditas tersebut semakin tertekan yang berdampak pada penurunan pendapatan produsen (misalnya, petani) di negara berkembang. Sementara negara-negara maju yang terletak di belahan utara menikmati surplus dan produk harga murah dari negara berkembang.  
 John Perkins dalam bukunya “Confession of Economic Hitman (EHM)” bahwa korporasi Amerika melalui EHM (yang diback up CIA) telah lama menjadikan negara-negara dunia ketiga yang memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) sebagai  menjadi target “perampokan” dan “susu perahan utang”, hendaknya menjadi sumber inspirasi para pejabat negeri ini untuk memperjuangkan hak-hak rakyat Negara berkembang. Di era 1960-an, para EHM mendatangi negara seperti Equator, Indonesia, Panama, Uruguay, Iran, Argentina, Brazil, Chili, dan negara-negara yang kaya dengan SDA lainnya.
Di amerika Latin, pasca great depression Negara-negara mulai sadar kalau amerika latin hanya dijadikan sebagai produsen bahan baku dari Negara-negara maju, dan hal itu akan terus berlanjut sampai mereka merubah dari pengekspor bahan baku menjadi Negara-negara industri yang memproses sendiri bahan baku dan menghentikan ekspor bahan baku ke Negara-negara maju.dengan alasan ingin mandiri dan tidak mau membuka pasarnya kepada Negara-negara maju bahkan sesama Negara amerika latin.
Dan imbasnya karena Negara amerika latin tidak ingin membuka pasarnya ke negara lain, dan mereka tidak mempunyai basic industry melainkan mengimpor dari Negara lain,  sementara mereka mulai menjadi Negara industri. akibatnya terjadinya over produksi karena daya beli masyarakat belum bias menyeimbangi banyaknya produksi dan akhirnya terjadi stagnasi ekonomi. Roda perekonomian tidak stabil, produksi lebih banyak dari konsumsi dan Negara terus-menerus berhutang untuk membiayai industry yang berujung pada kebangkrutan Negara-negara di Amerika Latin. Belum lagi ditambah kondisi politik yang sangat dinamis karena banyaknya rezim otoritarian serta kaum pemberontak di Amerika latin. hal ini berdampak pada banyaknya Negara-negara di Amerika Latin yang bangkrut.
Dalam Tulisan ini, saya akan mengkhususkan pada Negara Argentina. Bagaimana Argentina dengan kondisi Politiknya menyebabkan Negara ini bisa bangkrut dan Bagaimana Negara Argentina bisa bangkit dan berhasil mendapatkan penghapusan utang luar negeri sebesar 75 persen?  
Pembebasan Hutang
Internasionalisasi modal oleh Negara-negara kreditor kepada Negara-negara dunia ke-III  lewat program peminjaman utang kepada negara-negara kere menghasilkan perlawanan terhadap utang yang memiskinkan. Berbagai gerakan di dunia, baik yang merasakan “racun” dari utang melakukan perlawanan, dan tidak hanya itu gerakan-gerakan sosial (social movement) dan maupun gerakan politik (political movement) di negara-negara Induk melakukan perlawanan-perlawanan terhadap kebijakan pemerintah mereka, bahkan gerakan tersebut beberapa telah sampai pada program penghapusan utang terhadap negara-negara dunia ketiga (cancelation debt for the Third Country).
Adapun jenis-janis dari pembebasan utang adalah :
a)      Write Off (Penghapusan utang)
b) Debt Relief (Keringanan pokok utang dan bunga)
c) Debt Moratorium (Penundaaan pembayaran utang)
d) Debt Swap (Konversi utang)
a. Debt for poor Swap
b. Debt to eguity Swap
c. Debt swap for development (untuk lingkungan dan pendidikan seperti diterapkan pemerintah Jerman),
d. Debt to repayment against export delivery
e. Debt swap to privatization
f. Debt swap for FDI
g. Debt to project investment swap
e) Haircut debt/Herkat utang (Pembebasan utang Najis).
Kondisi politik-ekonomi Argentina sebelum pembebasan hutang
Argentina merupakan sebuah negara Amerika Latin yang terletak di bagian selatan benua Amerika Selatan, berada di antara Pegunungan Andes di bagian barat dan Samudra Atlantik di bagian selatan. Argentina mempunyai luas 2,766,890 km2 dan merupakan negara terbesar kedelapan di dunia, Negara ini berbatasan dengan Paraguay dan Bolivia di sebelah utara, Brasil dan Uruguay di timur laut dan Chili di sebelah barat.
Argentina merupakan negara dengan kondisi memilik kondisi politik dan ekonomi yang buruk sampai pada tahun 2003. Tingkat inflasinya mencapai 200% per bulan dengan banyaknya investor yang lari, utang yang besar, pengangguran tinggi, stagnansi pertumbuhan ekonomi (bahkan stagflasi) serta ketergantungan asing yang masih tinggi
Kondisi politik Argentina memburuk semenjak diperintah oleh Rezim militer pada tahun 1976 sampai 1989. Dan beberapa kali di perintah oleh regim otoritarian yang mengakibatkan pembengkakan hutang.
Pada tahun 1976 sampai 1983 Argentina dipimpin oleh regim militer yang kerap  melanggar hak asasi manusia dan membunuh beribu-ribu orang yang dikenal dengan peristiwa “dirty war” atau 'perang kotor'. Pada awal tahun 1980-an, rakyat semakin bosan dengan pemerintahan karena masalah ekonomi yang semakin meruncing, korupsi merajalela dan kekalahan di tangan tentara Britania Raya dalam "Perang Falkland" (di Argentina dikenal sebagai Perang Malvinas yaitu nama Argentina untuk pulau tersebut) pada tahun 1982. Selepas pemerintahan militer jatuh pada 1983, pemerintahan Argentina telah berusaha untuk menjadi demokratis tetapi terpaksa berhadapan dengan masalah ekonomi yang parah yang kemudian  dilanjutkan oleh pemerintahan radikal oleh Presiden Raúl Ricardo Alfonsin Foulkes (10 Desember 1983-9 Juli 1989) yang jatuh oleh pergolakan sosial dan aksi kaum buruh yang frustrasi oleh persoalan ekonomi. Saat itu, Argentina mengalami hiperinflasi hingga 5.000%. Naiknya Carlos Menem (8 Juli 1989-10 Desember 1999) pun semakin memperparah keadaan. Proses pembangunan ekonomi justru memperbesar kesenjangan sosial ekonomi. Angka pengangguran meningkat sampai 14,5%, sementara praktik korupsi dan tindak kejahatan semakin meluas.
Orientasi pembangunan cenderung elitis dan kurang memperhatikan rakyat bawah. Dan semakn memperbesar kesenjangan sosial. akhirnya kekuasaannya jatuh di tahun 1999, kondisi perekonomian negara sangat rapuh dan goyah. Tak lama setelah itu, Argentina langsung tersungkur dan mengalami krisis ekonomi yang hebat. Sikap terlalu liberal dan kurang kehati-hatian Menem juga merupakan penyebab krisis semakin parah.
Dalam pemilu 24 Oktober 1999, calon oposisi Fernando de la Rúa menang atas kandidat Partai Peronis Eduardo Alberto Duhalde dengan 48,5% berbanding 38%. Ketatnya kebijakan ekonomi menyebabkan Argentina gagal memenuhi batas waktu pembayaran utang luar negeri sebesar 132 milyar dolar AS dan gagal memperoleh kucuran dana pinjaman dari IMF sebesar US$1,3 milyar.
Setelah pengunduran diri Presiden de la Rua pada 20 Desember 2001, sesuai konstitusi, Kongres mengangkat Ketua Senat Ramón Puerta (21-23 Desember 2001) untuk menggantikan karena Wakil Presiden Carloz Alvarez telah mengundurkan diri tahun 2000.
Setelah 48 jam kemudian, Kongres bersidang selama tidak kurang 15 jam dan menetapkan Gubernur Provinsi San Luis Adolfo Rodriguez Saá (23 Desember 2001-1 Januari 2002) sebagai pengganti Presiden de la Rua. Begitu terpilih secara resmi, Presiden Rodriguez Saa menyatakan default (tidak sanggup membayar utang) atas utang luar negeri. Ini merupakan pernyataan default terbesar dalam sejarah.
Ketua Senat Ramon Puerta yang dalam konstitusi berhak menggantikan sementara karena kosongnya kursi wakil presiden langsung menyatakan mundur. Tindakan ini memaksa Ketua DPR Eduardo Camano (1-2 Januari 2002) harus mengambil alih kursi kepresidenan sementara selama 48 jam. Tepat pada 1 Januari 2002, Senator Eduardo Duhalde (2 Januari 2002-25 Mei 2003) terpilih menjadi presiden kelima Argentina dalam kurun waktu dua minggu. Eduardo Duhalde menyambut pemilihan dirinya sebagai presiden dan menyatakan, “Argentina Bangkrut”.
Setelah eduardo duhalde turun dari jabatanya ia digantikan oleh Néstor Carlos Kirchner Ostoić (Néstor Kirchner) yang terpilih menjadi presiden ke 54 Argentina (25 Mei 2003 – 10 Desember 2007).Kirchner merupakan seorang sosialis yang pro rakyat bak malaikat bagi Argentina karena telah melakukan reformasi di bidang politik, ekonomi, dan hukum, sosial  dan HAM di Argentina.
Dibidang ekonomi, Kirchner memfokuskan ekonomi mikro, peningkatan nilai sumber daya alam sebelum diekspor, meningkatkan program sosial ekonomi serta meningkatkan subsidi fundamental bagi rakyat. Dengan kebijakan yang revolusioner, ia mororatorium debt (penundaan pembayaran hutang) dan meminta penjadwalan kembali pembayaran utang  dan bunga senilai USD 84 miliar selama 3 tahun ke depan. Kebijakan ini ia tempuh karena Kirchner melihat bahwa sebagian besar utang tersebut adalah utang najis (odious debt) dan skenario utang tersebut bukan akan membangkitkan sosio-ekonomi rakyat Argentina justru sebaliknya utang hanya menjadi candu kesengsaraan rakyat Argentina.
Tak hanya itu kirichner beralasan bahwa APBN Argentina sangat membutuhkan dana pembangunan untuk mengurangi penderitaan rakyatnya. Jika dalam 3 tahun ke depan, Pemerintah Argentina terus  membayar utang, maka secara tidak langsung mengabaikan hak asasi hidup layak yang paling mendasar bagi rakyatnya. Lalu, dana cicilan ULN +bunga dialihkan untuk membuka sektor rill. Membuka pertanian dan industri pertanian serta segala macam infrakstruktur. Infrastruktur yang terintegrasi membuat produksi dari high cost economy menjadi low cost economy.
Keputusan penjadwalan kembali utang (rescedule debt) tentu saja ditentang oleh para pejabat WB,  IMF, pemerintah dan korporasi Amerika dan dari oposisi Pemerintahnya sendiri. Mereka mengancam bahwa jika keputusan itu diambil maka ekonomi Argentina diramalkan semakin memburuk (masih krisis), akan dikucilkan dari pergaulan internasional, negara-negara neo-lib tidak akan bertransaksi dengan Argentina, investornya akan keluar dari Argentina, investasi luar tidak akan masuk ke Argentina, dan intinya Argentina akan di-black list.
Argentina pasca pembebasan hutang
Argentina adalah sebuah negara yang kaya dengan SDA, tingkat melek huruf yang tinggi, sektor pertanian yang maju serta industri yang beragam. Malangnya, sejak akhir 1980-an negara ini telah menimbun hutang luar negeri yang tinggi, inflasi sampai 200% sebulan, dan pengeluaran yang membengkak.
Dibawah gertak sambal IMF, WB, Amerika CS, ternyata Presiden Kirchner berhasil membawa ekonomi Argentina tumbuh dari krisis 2001. Di tahun pertama, ekonomi tumbuh 7%, tahun kedua tumbuh 8% tanpa komitmen utang baru dan tahun ke-3, investor asing justru berduyun-duyun datang Argentina karena dukungan infrastruktur yang dibangun selama 2 tahun pertama membuat biaya  produksi di Argentina telah menjadi  rendah (low cost production). Justru para negara kreditor kembali menawari utang baru.
Perjuangan Kirchner terus berlanjut. Pada semester 1 2005, dengan berani ia kembali merestrukturisasi USD 81 miliar utang negara. Dengan alasan hutang Argentina adalah hutang najis (oudios debt) pada masa rezim otoriter memerintah Argentina. Dan perjuangan itupun membuahkan hasil. Lebih dari 76% utang tersebut ditender dan direstrukturisasi dengan nilai pembayaran 1/3 dari nilai utangnya
Selama 4 tahun memimpin, Kichner mencatat rekor ekonomi yang menakjubkan. Pertumbuhan ekonomi naik rata-rata 9% selama 2003-2007. Angka pertumbuhan ekonomi Argentina ini jauh diatas prediksi IMF pada 20 September  2003 yang hanya memprediksi ekonomi Argentina hanya tumbuh 4 persen selama 2004-2006. Angka pengangguran berhasil ditekan dari 17.8% pada tahun 2002, menjadi 14.3% pada masa awal jabatan dan turun menjadi 8.5% diakhir pemerintahannya. Disisi utang, Kirchner berhasil menurunkan rasio utang Argentina terhadap PDB dari 142% pada tahun 2003 turun drastis menjadi 56% pada tahun 2007. Penurunan rasio diikuti penurunan angka absolut utang Argentina dari 178 miliar dollar menjadi 140 miliar dollar dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 8 hingga 9%.
Tidak hanya utang absolut turun, cadangan devisa Argentina hanya 14 miliar dollar pada tahun 2003 naik hingga 46 miliar dollar.Keberhasilan dilakukan dimasa-masa krisis yang sangat menghancurkan ekonomi Argentina.
Keberanian argentina melawan tirani global dapat menjadi contoh bagi negara-negara berkembang ataupun negara-negara miskin yang terlilit hutang seperti Indonesia, agar pendapatan negara bisa dimaksimalkan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat, bukan hanya untuk membayar bunga utang luar negeri.